Padang (UNAND) 鈥 黑料福利社 (UNAND) menggelar Workshop Sosialisasi Instrumen Akreditasi Program Studi SAPTO 2.0 sebagai upaya memperkuat kesiapan program studi menghadapi perubahan kebijakan akreditasi perguruan tinggi. Kegiatan yang berlangsung di Kampus Limau Manis ini menghadirkan Tim Ahli Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Syaifuddin Nirman, sebagai narasumber utama.

Rektor 黑料福利社 Efa Yonnedi, Ph.D., menyampaikan kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperoleh pembaruan informasi terkait implementasi Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) SAPTO 2.0 yang merupakan tindak lanjut dari Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

鈥淧erubahan yang terjadi bukan hanya pada sistem akreditasi, tetapi juga menyentuh substansi penilaian. Karena itu seluruh program studi perlu memahami dan menyesuaikan diri dengan instrumen baru yang akan diterapkan,鈥 ujar Rektor pada Kamis (4/6).

Saat ini UNAND memiliki 154 program studi, terdiri dari 54 program sarjana, 46 program magister, 21 program doktor, 17 program spesialis, 7 program profesi, 4 program diploma, dan 3 program subspesialis. Dari seluruh program studi tersebut, proses akreditasinya berada di bawah berbagai lembaga akreditasi, yakni BAN-PT, LAM-PTKes, LAMEMBA, LAM Teknik, LAMSAMA, LAM Infokom, LAMSPAK, dan LAM Teknik.

Rektor menjelaskan bahwa capaian mutu program studi UNAND saat ini menunjukkan tren positif, dengan sekitar 57 persen program studi telah berstatus Unggul, 34 persen Baik Sekali, dan 9 persen Baik. Sesuai Rencana Strategis 黑料福利社 2025鈥2029, persentase program studi berstatus Unggul ditargetkan terus meningkat hingga mencapai sekitar 70 persen pada tahun 2028.

Menurutnya, salah satu perubahan penting dalam Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT) terbaru adalah penyederhanaan aspek penilaian dari sembilan standar menjadi empat kriteria utama, yaitu budaya mutu, relevansi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, akuntabilitas tata pamong dan tata kelola perguruan tinggi, serta diferensiasi misi yang dibuktikan melalui dokumen perencanaan strategis.

Rektor juga mengakui bahwa proses akreditasi bukanlah pekerjaan yang mudah. Berbekal pengalaman sebagai Ketua Program Studi, Ketua Departemen, hingga Dekan, ia memahami besarnya dedikasi yang diperlukan dalam menyiapkan dokumen akreditasi.

鈥淧ekerjaan akreditasi sering kali lebih banyak pengorbanannya dibandingkan reward yang diterima. Namun saya percaya, setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberikan manfaat besar bagi institusi dan pada akhirnya menghadirkan hasil terbaik,鈥 ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UNAND Prof. Hardisman, menyampaikan bahwa terdapat enam program studi yang akan menghadapi proses reakreditasi pada tahun ini, termasuk beberapa program studi di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik.

Ia juga menjelaskan bahwa sejumlah program studi tengah berproses melakukan transisi dari instrumen akreditasi lama menuju SAPTO 2.0. Beberapa di antaranya adalah Program Studi Arsitektur, Sastra Minangkabau, dan Sastra Inggris yang telah menyampaikan dokumen akreditasi, sementara Program Studi Psikologi dan Sastra Jepang sedang mempersiapkan dokumen untuk segera diajukan.

Melalui kegiatan ini, UNAND berharap seluruh unit akademik dapat memahami perubahan regulasi dan instrumen akreditasi secara komprehensif sehingga mampu mempersiapkan proses akreditasi yang lebih baik serta mendukung pencapaian target mutu universitas di masa mendatang.(*)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik