听听
听 听
Musim panas 2025, jutaan orang di seluruh dunia menirukan gerakan seorang bocah di atas perahu. Pemain Paris Saint-Germain melakukannya sebagai selebrasi gol. Maskot AC Milan ikut-ikutan. Anak kecil di Argentina membawa boneka berbentuk kentongan kayu sambil mengucapkan "tung tung tung sahur." Dalam rentang beberapa bulan, dua konten yang berakar dari budaya Indonesia yaitu Pacu Jalur dan Tung Tung Tung Sahur menjadi fenomena yang tidak terbendung di TikTok global. Kabar baik? Di permukaan, ya. Tapi ada pertanyaan yang lebih mengganggu dan jarang diajukan: dari sekian ratus tradisi dan warisan budaya Indonesia, mengapa yang mendunia justru gerakan bocah di atas perahu dan karakter kentongan AI yang absurd? Dan siapa sebenarnya yang paling diuntungkan ketika tradisi lokal kita viral?
Kecurigaan yang Tidak Boleh Diabaikan
Isu trade misinvoicing dalam ekspor crude palm oil (CPO) tidak boleh diperlakukan sebagai sekadar perbedaan angka statistik. Dalam beberapa pemberitaan terbaru, isu ini muncul bersama dugaan under-invoicing, transfer pricing, manipulasi dokumen ekspor, dan penggunaan perusahaan perantara di luar negeri. Palm Oil Magazine pada 31 Mei 2026, misalnya, memberitakan bahwa GAPKI mengakui under-invoicing masih menjadi tantangan dalam perdagangan sawit Indonesia. BusinessToday pada 26 Mei 2026 juga menulis bahwa pemerintah mempertimbangkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan CPO yang diduga melakukan manipulasi invoice perdagangan.
Read more: Membaca Indikasi Trade Misinvoicing Ekspor CPO Indonesia
Krisis iklim tidak lagi menjadi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya kini semakin nyata, terutama melalui perubahan suhu, pola hujan yang tidak menentu, pergeseran musim tanam, serta meningkatnya risiko cuaca ekstrem. Intergovernmental Panel on Climate Change bahkan menyebutkan bahwa suhu global kemungkinan akan mencapai 1,5掳C pada periode 2030-2052 apabila pemanasan terus meningkat pada laju saat ini. Ancaman ini tidak hanya terlihat dari perubahan rata-rata curah hujan, tetapi juga dari semakin kuatnya intensitas, frekuensi, dan ketidakpastian hujan ekstrem.
Read more: Krisis Iklim Mengancam Pertanian: Akankah Anak Muda Diam atau Bertindak?
Setiap tetes hujan yang menyirami ladang dan sawah kini membawa lebih dari sekadar air. Partikel plastik tak kasatmata ikut turun, meresap ke tanah, diserap akar, dan perlahan meracuni rantai pangan kita dari pangkalnya.
Read more: Racun dari Langit: Hujan Mikroplastik Mengancam Tanaman Pangan dan Ekosistem Indonesia
Ketika menikmati secangkir kopi pada pagi hari, sepotong semangka di siang hari, atau sepiring sayuran segar saat makan malam, jarang sekali kita memikirkan makhluk kecil yang berperan besar menghadirkan produk pertanian tersebut. Kita lebih sering mengaitkan keberhasilan produksi pangan dengan penggunaan pupuk, benih unggul, atau teknologi pertanian modern. Padahal, ada pekerja alam yang bekerja tanpa upah, tanpa sorotan, dan sering kali luput dari perhatian: dialah serangga penyerbuk, yang didominasi oleh lebah.