Di tengah dunia yang intens membicarakan kecerdasan buatan, mobil listrik, dan energi hijau, ada serangga kecil yang diam-diam menentukan masa depan kehidupan manusia: lebah. Tanpa lebah, dunia mungkin tetap memiliki teknologi canggih, tetapi manusia diduga akan kehilangan sebagian besar tanaman pangan yang bergantung proses penyerbukan (polinasi) pada lebah. FAO menduga bahwa lebih dari 75 persen tanaman pangan dunia bergantung, setidaknya sebagian, pada lebah. Oleh karena itu, lebah bukan sekadar penghasil madu, melainkan penjaga ketahanan pangan dunia.
Ironisnya, ketika banyak negara serius melindungi lebah dari kepunahan, Indonesia justru belum serius menjadikan industri perlebahan sebagai agenda strategis nasional. Padahal, sebagai negera tropis, Indonesia memiliki syarat sebagai salah satu pusat industri madu dunia. Selain itu, jasa polinasi lebah memiliki nilai ekonomi besar bagi sektor pertanian dan perkebunan. Lebah mampu meningkatkan produktivitas tanaman buah, sayuran, kopi, kakao, dan berbagai komoditas hortikultura. Di Amerika Serikat dan Eropa, nilai ekonomi polinasi lebih besar dibandingkan nilai jual madu.
Di tengah meningkatnya tren back to nature dan konsumsi pangan sehat, madu kini tidak lagi dipandang sebagai minuman tradisional, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup sehat modern. Produk berbasis madu berkembang pesat, mulai dari minuman kesehatan, suplemen herbal, produk kecantikan, hingga pangan fungsional. Namun di balik potensi besar tersebut, konsumsi madu masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Konsumsi madu nasional diperkirakan hanya sekitar 15 gram per kapita per tahun, jauh tertinggal dibandingkan negara maju seperti Jepang, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat yang mencapai lebih dari satu kilogram per kapita per tahun.
Indonesia sebenarnya memiliki modal ekologis luar biasa untuk membangun industri perlebahan. Sebagai negara tropis, di Indonesia tumbauh sekitar 25.000 spesies tanaman berbunga sebagai penghasil nektar dan polen dan tersedia听 sepanjang tahun. Indonesia juga kaya dengan spesies lebah seperti Apis cerana, Apis mellifera, Apis dorsata, dan lebah tanpa sengat (stingless bee) yang potensial sebagai penghasil madu, propolis, royal jelly dan polen.
Peran Perguruan Tinggi
Perguruan Tinggi termasuk 黑料福利社 (UNAND) memiliki peran strategis dalam upaya pengembangan sains perlebahan dan hilirisasi produk perlebahan. Setidaknya ada empat agenda strategis yang dapat dilakukan Unand, yaitu: Pertama; Program Studi yang relevan di Unand dapat menawarkan mata kuliah Ilmu Ternak Lebah di dalam kurikulum Prodi sebagaimana dikembangkan di Fakultas Peternakan UGM dan Fapet IPB. Fapet UGM menawarkan mata kuliah Ilmu Lebah Madu (1 sks). Di Fapet IPB materi perlebahan ditawarkan dalam mata kuliah Peternakan Inovatif (2 sks).
Di Prodi S1 Peternakan UNAND sebenarnya materi kuliah tentang perlebahan sudah听 ditawarkan di dalam mata kuliah Ilmu dan Teknologi Produksi Satwa Harapan (3 sks). Hanya saja materi masih sangat terbatas. Ke depan diharapkan mata kuliah Ilmu Lebah Madu menjadi mata kuliah sendiri dengan bobot minimal 2 sks. Selain itu, Prodi Agro Teknologi di Faperta dapat menawarkan mata kuliah terkait peran lebah serangga serangga penyerbuk, Prodi Gizi, Farmasi dan Biomedis dapat menawarkan mata kuliah terkait dengan madu, propolis, bee polen dan royal jelly sebagai bahan baku industri pangan dan farmasi.
Kedua, UNAND sebaiknya membentuk Pusat Studi Perlebahan. Riset multidisiplin secara berkelanjutan terkait budidaya ternak lebah, ekonomi polinasi lebah dan hilirisasi produk perlebahan sudah mulai dikerjakan oleh beberapa peneliti UNAND. Hanya saja mungkin belum terkonsolidasi dengan baik. Dari sisi kepakaran, sudah ada beberapa dosen UNAND yang melakukan penelitian tentang perlebahan. Dulu Unand bahkan memiliki seorang guru besar dalam bidang perlebahan, yaitu Prof. Dr. Siti Salmah, guru besar di Departemen Biologi FMIPA. Artinya secara rekam jejak riset perlebahan di UNAND sudah berlangsung cukup lama. Karena itu, pembentukan Pusat Studi Perlebahan sudah waktunya didirikan di UNAND.
Ketiga, kawasan kampus UNAND Limau Manis dengan luas sekira 500 ha sangat kaya dengan vegetasi tumbuhan, baik tanaman hias (bunga-bunga), maupun tanaman hutan di sekitar Kampus Limau Manis. Lihatlah di dalam kampus banyak tumbuh pohon akasia dan vegetasi lainnya. Pohon akasia dan vegetasi tumbuhan adalah tanaman berbunga. Sepanjang ada tanaman berbunga, maka disana sesungguhnya melimpah pakan lebah. Kawasan kampus Limau Manis adalah penghasil pakan lebah yang luar biasa. Biaya pakan hampir nol karena lebah mencari makan sendiri di alam.
Keempat, UNAND sudah waktunya membuka Prodi Diploma Dua (D2) Peternakan Lebah. Secara nomenklatur dimungkinkan sesuai dengan SK Dirjen Pendidikan Vokasi Kemdikbud Ristek Nomor: 27/D/M/2022. Program D2 Peternakan Lebah diharapkan mampu menghasilkan SDM terampil yang nanti akan berkontribusi dalam pengembangan industri perlebahan dan hilirisasi produk perlebahan di Indonesia. Sebagai PTNBH Unand memiliki keleluasaan di dalam membuka Prodi baru, termasuk jika akan membuka Prodi D2 Industri Perlebahan.听
Semoga dengan status UNAND PTNBH, pimpinan Unand kiranya dapat melirik usaha perlebahan sebagai salah satu bisnis potensial yang dikembangkan di Unand. Potensi pakan melimpah. Potensi pakar tersedia di beberapa fakultas. Potensi ekonomi produk lebah yang multi manfaat dan bernilai ekonomi tinggi.
Jika diasumsikan satu hektar dapat menampung 100 koloni lebah, maka dengan luas kawasan kampus Unand sebesar 500 hektar, akan dapat ditampung 50 ribu koloni lebah. Sebuah potensi luar biasa. Semoga di suatu waktu dari Kampus UNAND akan dihasilkan 鈥漨adu Andalas鈥, 鈥漴oyal jelly Andalas鈥, 鈥漰ropolis Andalas鈥, 鈥漛ee pollen Andalas鈥, dan berbagai produk inovasi dan hilirisasi dari industri perlebahan. Semoga.
Penulis: Dr. Ir. Rusfidra, S.Pt, IPM ASEAN Eng. (Dosen Pemuliaan Ternak Unggas听Fak. Peternakan/ Wakil Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana 黑料福利社)
听 

