Padang (UNAND) 鈥 Kemampuan berkomunikasi dan mengelola emosi menjadi faktor utama yang menentukan efektivitas seorang pemimpin. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Edmi Edison, M.D., Ph.D. dalam Kuliah Umum bertajuk 鈥淣euroleadership Insight for Strengthening Art in Language and Decision Making鈥 yang digelar 黑料福利社 di Ruang Sidang Senat, Rabu (17/6), sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-70 黑料福利社. Kegiatan dibuka oleh Direktur Sumber Daya Manusia 黑料福利社, Dr. Roni Eka Putra, yang mewakili Wakil Rektor III 黑料福利社.
Dalam pemaparannya, Dr. Edmi menjelaskan bahwa kepemimpinan dan manajemen merupakan dua hal yang berbeda. Menurutnya, seorang pemimpin (leader) berfokus pada make the right things, yaitu memastikan organisasi mengerjakan hal-hal yang tepat dan memiliki arah yang benar. Sementara itu, manajemen berfokus pada make things right, yakni memastikan setiap pekerjaan dilaksanakan dengan baik, efektif, dan sesuai prosedur untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Ia menegaskan bahwa penentu utama kualitas seorang pemimpin bukanlah dominasi otak kanan atau otak kiri, melainkan kemampuan berkomunikasi. Kesalahpahaman yang selama ini berkembang mengenai dominasi otak kanan dan kiri, menurutnya, tidak memiliki hubungan langsung dengan jiwa kepemimpinan seseorang.
Dr. Edmi menjelaskan bahwa pusat berpikir kritis, logika, dan pengambilan keputusan manusia berada pada bagian otak depan atau prefrontal cortex. Sementara itu, pembagian otak kanan dan kiri lebih berkaitan dengan fungsi bahasa. Pada sebagian besar manusia, pusat bahasa berada di belahan otak kiri, sehingga dominasi otak kanan atau kiri tidak dapat dijadikan indikator kemampuan kepemimpinan seseorang.
Menurutnya, komunikasi tatap muka memiliki keunggulan dibandingkan komunikasi melalui media daring. Saat berinteraksi secara langsung, otak memproses informasi verbal dan nonverbal secara bersamaan sehingga pesan dapat diterima secara lebih utuh. Karena itu, kualitas kepemimpinan seseorang lebih mudah terlihat melalui komunikasi langsung di dunia nyata.
鈥淜etika berkomunikasi secara langsung, kita menggunakan lebih banyak fungsi otak karena pesan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga ekspresi, intonasi, dan bahasa tubuh,鈥 jelasnya.
Dalam sesi tersebut, Dr. Edmi juga memaparkan cara kerja otak dalam menerima informasi. Ia menyebutkan bahwa manusia umumnya mampu menerima informasi secara optimal selama sekitar 50 menit, sementara rentang perhatian yang paling efektif berada pada 20 menit pertama. Oleh sebab itu, penyampaian pesan yang jelas dan terstruktur menjadi penting agar informasi dapat diterima dengan maksimal.
Selain itu, unsur emosional memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang mengingat dan menafsirkan informasi. Menurutnya, otak manusia secara alami lebih mudah mengingat pengalaman atau informasi yang bersifat negatif dibandingkan yang positif. Kondisi ini membuat emosi menjadi faktor penting yang perlu dikelola oleh seorang pemimpin.
Karena itu, tantangan terbesar seorang pemimpin bukanlah mengelola orang lain, melainkan mengelola emosinya sendiri. Ia mengingatkan agar pemimpin tidak mengambil keputusan ketika sedang marah atau berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.
鈥淒alam kepemimpinan, sering kali yang lebih penting adalah bagaimana kita menyampaikan sesuatu dibandingkan apa yang kita sampaikan. How you deliver lebih penting daripada what you deliver,鈥 ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa cara berpakaian juga memengaruhi proses kognitif dan persepsi orang lain. Konsep ini berkaitan dengan mirror neuron, yaitu mekanisme otak yang membuat manusia secara tidak sadar membentuk penilaian terhadap orang lain berdasarkan berbagai isyarat yang ditampilkan.
Menurutnya, kesan pertama sering terbentuk hanya dalam enam detik pertama pertemuan, termasuk dari aspek penampilan. Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu memperhatikan kepantasan dan kerapian berpakaian sesuai dengan situasi yang dihadapi karena hal tersebut turut memengaruhi cara orang lain memandang dan merespons dirinya.
Pada akhir sesi, Dr. Edmi membagikan sejumlah strategi untuk membantu pemimpin mengambil keputusan secara lebih objektif dan tidak dipengaruhi emosi. Salah satunya adalah menciptakan jarak dengan permasalahan yang sedang dihadapi, baik jarak secara mental maupun fisik.
Ia menyarankan agar seseorang mencoba melihat persoalan pribadinya seolah-olah merupakan masalah orang lain. Cara ini membantu mengaktifkan fungsi berpikir rasional pada prefrontal cortex dan mengurangi dominasi sistem limbik yang berperan dalam respons emosional.
Strategi kedua adalah memberikan jeda waktu sebelum mengambil keputusan penting. Menurutnya, tekanan waktu sering kali membuat seseorang mengambil keputusan secara impulsif. Untuk keputusan yang berdampak besar, terutama yang berkaitan dengan keuangan, ia merekomendasikan memberi waktu hingga 48 jam sebelum menentukan pilihan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memberikan jeda bagi otak untuk beristirahat. Otak yang terus-menerus bekerja tanpa jeda akan mengalami penurunan kemampuan berpikir, kreativitas, dan kualitas pengambilan keputusan. Karena itu, istirahat yang cukup menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas seorang pemimpin.
Melalui pendekatan neuroleadership, Dr. Edmi menegaskan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh keterampilan komunikasi, pengendalian emosi, serta pemahaman terhadap cara kerja otak dalam memproses informasi dan mengambil keputusan. (N)
听
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik.
听 

